![]() |
Foto: Cover novel Kita Pergi Hari Ini (Sumber: Gramedia) |
Judul :
Kita Pergi Hari Ini
Penulis :
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: : PT Gramedia Pustaka utama
Cetakan
: Cetakan pertama, 2021
“Yang paling mengerikan adalah anak-anak,”
Menggemaskan tapi sadis, mengerikan
tapi penuh keberanian—itulah kata-kata yang dapat menggambarkan novel Kita
Pergi Hari Ini karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Novel ini
menggambarkan realitas sosial di Indonesia, yaitu ketika banyak orang tua yang
memiliki banyak anak tetapi tidak memiliki rasa tanggung jawab untuk merawat
dan membesarkannya. Membaca novel ini akan memunculkan pertanyaan mendalam: Mengapa
memilih untuk memiliki anak jika pada akhirnya mereka dianggap sebagai beban?
Dengan ciri khas gaya penulisannya yang unik dan terkesan nyeleneh,
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie sukses membuat pembaca merasakan beragam emosi, mulai
dari rasa gemas, bahagia, kesal, sedih, dan marah.
Novel berjudul Kita
Pergi Hari Ini karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie ini sangat
mereperensasikan kalimat; don’t judge a book by its cover. Cover yang
lucu dengan empat anak kecil yang terlihat sedang berpetualang mungkin akan
membuat beberapa orang berpikir bahwa ini merupakan novel anak-anak, atau
setidaknya akan aman jika dibaca oleh anak-anak. Faktanya, novel ini adalah
novel tentang anak-anak yang tidak boleh dibaca anak-anak. Novel Kita Pergi
Hari Ini menceritakan tentang keluarga Bu Mo dan Pak Mo yang memiliki tiga
anak, yaitu Mi, Ma, dan Mo. Bu Mo dan Pak Mo tidak memiliki uang untuk membayar
pengasuh dan tidak memiliki waktu untuk mengasuh anak-anaknya karena harus
bekerja dari pagi hingga malam hari. Oleh karena itu, mereka menitipkan
anak-anaknya kepada Cara Lain, yaitu Kucing Luar Biasa bernama Nona Gigi.
Selanjutnya cerita seperti berjalan dengan sendirinya. Pemilihan kata yang
rumit dan unik yang digunakan oleh Ziggy seolah menghipnotis pembaca untuk
benar-benar fokus mengikuti alur ceritanya. Cerita berlanjut saat suatu hari
datang tetangga baru dengan anak kembarnya yang bernama Fifi dan Fufu. Nona
Gigi akhirnya mengajak Mi, Ma, Mo, Fifi, dan Fufu untuk berpetualang ke tempat
asalnya yang bernama Kota Terapung Kucing Luar Biasa. Petualangan lima anak itu
dimulai dengan perasaan yang tenang dan menyenangkan tetapi berakhir dengan
mengerikan dan jalan cerita yang berakhir tragis.
Transisi dari cerita awal yang
sangat manis berubah menjadi cerita yang sangat menyeramkan sangat mengejutkan
pembaca. Kejadian-kejadian yang dialami oleh anak-anak yang berpetualang di
Kota Terapung Kucing Luar Biasa penuh dengan kejutan-kejutan yang tidak masuk
akal. Walaupun begitu, Ziggy banyak menyelipkan humor-humor yang memerlukan
logika serta penjelasan-penjelasan lucu tentang sesuatu secara harfiah. Selain
itu, Ziggy selalu membuat permainan kata yang terkesan seperti meracau, nyentrik,
memusingkan, tetapi tetap menarik untuk dibaca. Ditambah dengan catatan kaki
yang dibuat tidak masuk akal tetapi berhasil menambah warna dalam ceritanya.
Melalui ceritaya, buku ini berisi
kritikan mengenai keserakahan manusia, ekploitasi yang dilakukan manusia
terhadap alam dan binatang, meningkatnya populasi manusia, serta tanggung jawab
orang tua kepada anak yang diabaikan.
Novel Kita Pergi Hari Ini berisi
imajinasi dan petualangan anak yang dikemas sedemikian rupa oleh penulisnya
sehingga menghasilkan karya sastra yang kaya akan makna. Kisah-kisah para
tokohnya membuat para pembaca belajar untuk memahami, menghargai, dan mencintai
anak-anak, serta tidak meremehkan anak-anak dengan melihat mereka sebagai
manusia yang belum mengerti apa-apa sehingga mengabaikan perasaan dan perkataan
mereka.
Novel Kita Pergi Hari Ini merupakan
novel yang dikemas dengan semenarik mungkin menggunakan tata bahasa aneh tetapi
memiliki banyak pesan dan makna di dalamnya.
Komentar
Posting Komentar