Anak-Anak dan Rasa Sakitnya: Resensi Novel Kita Pergi Hari Ini

 

    Foto: Cover novel Kita Pergi Hari Ini (Sumber: Gramedia)


Judul               : Kita Pergi Hari Ini

Penulis             : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Penerbit:         : PT Gramedia Pustaka utama

Cetakan           : Cetakan pertama, 2021

Halaman          : 182 halaman

“Yang paling mengerikan adalah anak-anak,”

Menggemaskan tapi sadis, mengerikan tapi penuh keberanian—itulah kata-kata yang dapat menggambarkan novel Kita Pergi Hari Ini karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Novel ini menggambarkan realitas sosial di Indonesia, yaitu ketika banyak orang tua yang memiliki banyak anak tetapi tidak memiliki rasa tanggung jawab untuk merawat dan membesarkannya. Membaca novel ini akan memunculkan pertanyaan mendalam: Mengapa memilih untuk memiliki anak jika pada akhirnya mereka dianggap sebagai beban? Dengan ciri khas gaya penulisannya yang unik dan terkesan nyeleneh, Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie sukses membuat pembaca merasakan beragam emosi, mulai dari rasa gemas, bahagia, kesal, sedih, dan marah.

Novel berjudul Kita Pergi Hari Ini karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie ini sangat mereperensasikan kalimat; don’t judge a book by its cover. Cover yang lucu dengan empat anak kecil yang terlihat sedang berpetualang mungkin akan membuat beberapa orang berpikir bahwa ini merupakan novel anak-anak, atau setidaknya akan aman jika dibaca oleh anak-anak. Faktanya, novel ini adalah novel tentang anak-anak yang tidak boleh dibaca anak-anak. Novel Kita Pergi Hari Ini menceritakan tentang keluarga Bu Mo dan Pak Mo yang memiliki tiga anak, yaitu Mi, Ma, dan Mo. Bu Mo dan Pak Mo tidak memiliki uang untuk membayar pengasuh dan tidak memiliki waktu untuk mengasuh anak-anaknya karena harus bekerja dari pagi hingga malam hari. Oleh karena itu, mereka menitipkan anak-anaknya kepada Cara Lain, yaitu Kucing Luar Biasa bernama Nona Gigi. Selanjutnya cerita seperti berjalan dengan sendirinya. Pemilihan kata yang rumit dan unik yang digunakan oleh Ziggy seolah menghipnotis pembaca untuk benar-benar fokus mengikuti alur ceritanya. Cerita berlanjut saat suatu hari datang tetangga baru dengan anak kembarnya yang bernama Fifi dan Fufu. Nona Gigi akhirnya mengajak Mi, Ma, Mo, Fifi, dan Fufu untuk berpetualang ke tempat asalnya yang bernama Kota Terapung Kucing Luar Biasa. Petualangan lima anak itu dimulai dengan perasaan yang tenang dan menyenangkan tetapi berakhir dengan mengerikan dan jalan cerita yang berakhir tragis.

Transisi dari cerita awal yang sangat manis berubah menjadi cerita yang sangat menyeramkan sangat mengejutkan pembaca. Kejadian-kejadian yang dialami oleh anak-anak yang berpetualang di Kota Terapung Kucing Luar Biasa penuh dengan kejutan-kejutan yang tidak masuk akal. Walaupun begitu, Ziggy banyak menyelipkan humor-humor yang memerlukan logika serta penjelasan-penjelasan lucu tentang sesuatu secara harfiah. Selain itu, Ziggy selalu membuat permainan kata yang terkesan seperti meracau, nyentrik, memusingkan, tetapi tetap menarik untuk dibaca. Ditambah dengan catatan kaki yang dibuat tidak masuk akal tetapi berhasil menambah warna dalam ceritanya.

Melalui ceritaya, buku ini berisi kritikan mengenai keserakahan manusia, ekploitasi yang dilakukan manusia terhadap alam dan binatang, meningkatnya populasi manusia, serta tanggung jawab orang tua kepada anak yang diabaikan.

Novel Kita Pergi Hari Ini berisi imajinasi dan petualangan anak yang dikemas sedemikian rupa oleh penulisnya sehingga menghasilkan karya sastra yang kaya akan makna. Kisah-kisah para tokohnya membuat para pembaca belajar untuk memahami, menghargai, dan mencintai anak-anak, serta tidak meremehkan anak-anak dengan melihat mereka sebagai manusia yang belum mengerti apa-apa sehingga mengabaikan perasaan dan perkataan mereka.

Novel Kita Pergi Hari Ini merupakan novel yang dikemas dengan semenarik mungkin menggunakan tata bahasa aneh tetapi memiliki banyak pesan dan makna di dalamnya.


Komentar